Protes lalu Pandemi: Mobilisasi Masyarakat Sipil pada Thailand lalu Filipina

COVID-19 sudah membawa dampak penerapan resistensi mepet yg menyedikitkan celah awam sebagai mondial. Asia Tenggara tak diperbedakan. Namun, resistensi mepet menyandang kesudahan yg berbeda-beda lubuk pinggan membawa pagebluk, lalu perintis kerakyatan dengan perawat sidik prinsipil makhluk sudah menjawab taazur tercantum sebagai divergen.

Ringkasan kearifan ini diambil sejak kerangka ganda tanah tumpah darah sejak Asia Tenggara—Thailand lalu Filipina—kepada menelaah dampak resistensi mepet lubuk pinggan merupakan aktivisme rakyat awam. Lebih tua mengecek lalu memperlainkan kedua tanah tumpah darah ini karena menerangi:

  1. Bagaimana resistensi mepet menciptakan buatan yg divergen lubuk pinggan mengelola pagebluk.
  2. Bagaimana aktivisme rakyat awam terjalin lalu dibentuk sama respons pagebluk kebangsaan.

Klik ala lukisan sarung pada dek kepada mengunduh ikhtisar kearifan setia.

COVID-19 lalu Kekuatan Darurat

Thailand selaku tanah tumpah darah mula-mula pada perantau China yg memberitahukan COVID-19 ala 13 Januari 2020. Hingga penghujung Maret warsa itu, 60 sejak 77 teritori menghadapi pagebluk COVID-19. Kasus COVID-19 setengah asik permanen pada dek 5.000 ala warsa 2020. Setelah ini, Thailand mengecamkan ganda bena pagebluk COVID-10 lainnya ala Desember 2020 lalu April 2021. Hingga Juli 2021, Thailand menyandang makin sejak 415.000 urusan yg dikonfirmasi lalu 3400 akhir hidup. Dibandingkan karena Thailand, Filipina tak tahu menghadapi bena pagebluk namun sudah memata-matai lonjakan segera menyusup dari urusan mula-mula dilaporkan ala 20 Januari 2020. Pada Juni 2021, Filipina menyandang makin sejak 1,2 juta urusan yg dikonfirmasi lalu 22.000 akhir hidup.

Masyarakat Sipil lalu Giliran Otoritarian Asia Tenggara

Sama seolah-olah tak bermukim hubungan tertinggal penyeling kerakyatan lalu rezim yg bernilai, kita tak mampu pula menghunus tulisan nasib runtut penyeling otoritarianisme lalu rezim yg lesu.


Untuk mengelola pagebluk COVID-19, Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-ocha memerikan bentuk mepet (Deklarasi Darurat 2020) Pada coplok 25 Maret, membonceng Bagian 5 sejak Keputusan Darurat akan Administrasi Publik lubuk pinggan Situasi Darurat BE 2548 (2005). Keputusan ini start berfungsi ala 26 Maret 2020, mencangking sarwa teritori pada dek kuasa mepet lalu membawa kekuasaan sejak Menteri ke Prayut mufrad. Di Filipina, Presiden Rodrigo Duterte mengesahkan Proklamasi No. 929 ala 16 Maret 2020, yg menanam tanah tumpah darah itu lubuk pinggan bentuk kemudaratan selagi heksa kamar akibat COVID-19. Pernyataan khas ini membolehkan Pemerintah Pusat lalu potongan penguasa lokasi menyandang kebijaksanaan yg belum tahu berjalan sebelumnya kepada membonceng kapital yg tumbuh lubuk pinggan kuasa kesiapsiagaan lalu perseptif kemudaratan mereka kepada menyetop penyiaran COVID-19.

Mobilisasi Massal selagi Pandemi

Temuan transenden menerangi berbagai rupa buatan yg dihasilkan sejak penerapan resistensi mepet kepada sambutan pagebluk kebangsaan lalu pertikaian lubuk pinggan kesempatan lalu pengeluaran perincian rakyat awam. Kedua tanah tumpah darah mengaplikasikan langkah-langkah mepet kepada memecahkan pagebluk. Tindakan mepet ini menujukan dominasi lalu sendang gerakan finansial karena penguasa kebangsaan. Dalam urusan Thailand, keadaan ini konstruktif lubuk pinggan mengelola penyiaran COVID-19 ala pagebluk mula-mula, sehingga mengasihkan kesempatan perincian awak kepada mengabulkan aktivasi lubuk pinggan penentangan jalanan. Namun, pada Filipina, resistensi mepet menujukan dominasi lalu sendang gerakan lalu, ala kali yg layak, membolehkan serdadu kepada berkujut terus lubuk pinggan respons pagebluk. Akibatnya, respons pagebluk dimanfaatkan kepada kontra-pemberontakan lalu represi tanah tumpah darah.

Mobilisasi rakyat awam sama-sama tergantung karena sambutan pagebluk lubuk pinggan ujung pangkal bahwa dia mengasihkan pengamatan strategis ala resistensi mepet lalu menyomenyungkurkong menyimpan jalan masuk ke pelayanan lalu penerangan. Mobilisasi rakyat awam sudah menekan penguasa Thailand lalu Filipina kepada menaikkan respons pagebluk mereka namun tak sahih diterjemahkan ke lubuk pinggan transfigurasi kearifan maupun perbaikan momen keterlibatan rakyat yg suah bermukim sebelumnya sudah dibatasi lalu semakin diperburuk sama pagebluk. Dalam urusan Filipina, respons pagebluk yg malang menyandang resultan terpecah ala aktivasi rakyat awam. Penguncian yg sendat lalu meningkatnya urusan COVID-19 mengadakan anak Adam tak hendak turun ke kronologi lalu mengabulkan penentangan. Ada urusan penentangan online maupun saluran kemasyarakatan, namun ini turut campur ke daerah disinformasi digital yg suah bersoal pada Filipina. Tenaga kebugaran permanen berpengaruh pada centeng permulaan pagebluk lalu sebagai mantap menekan penguasa kepada memugar orang. Namun, kegelisahan mereka setengah asik sudah diabaikan sama gabungan darma COVID-19 kebangsaan yg dimiliterisasi.

Sudah makin sejak mono- warsa dari pagebluk COVID-19 mula-mula lalu respons pagebluk penguasa Filipina permanen pendek pikiran lalu militeristik. Paradoksnya, kekandasan ini mengakibatkan munculnya program “swadaya” berbasis peguyuban kontemporer kepada memperkuat sejak pagebluk yg didukung sama dogma bahwa anak Adam tak angsal memercayakan subsidi sejak penguasa lalu sama akibat itu patut memecahkan darurat ini mufrad. Inisiatif berbasis peguyuban ini berpotensi menguatkan rakyat awam lalu memugar keburukan kemasyarakatan yg disebabkan sama rezim Duterte lubuk pinggan paser jauh, namun pula memesongkan atensi sejak keinginan kepada menaikkan respons pagebluk kebangsaan.

Meskipun bukan main divergen lubuk pinggan skema ketatanegaraan lalu kemasyarakatan akal budi, perintis kerakyatan lalu perawat sidik prinsipil makhluk pada kedua tanah tumpah darah sudah harmonis karena represi tanah tumpah darah yg diintensifkan pagebluk. Di Filipina, penguasa meneguhkan Undang-Undang Anti-Terorisme ala Juni 2020 kali penguncian diberlakukan. Terlepas sejak teriakan mondial PBB kepada penghentian senjata lubuk pinggan mengangkat kontak senjata yg makin asik menengkar COVID-19, Negara Filipina pada dek Duterte mengoptimalkan bedah kontra-pemberontakan lalu kontra-terorismenya. Red-tagging merujuk ala pelabelan perseorangan lalu gugusan beraliran kidal selaku komunis lalu karenanya teroris. Target penandaan ahmar, menyertai jalur yg layak sejak kontak senjata narkoba, sudah terbetik melebihi terduga standar kaum Komunis lalu Tentara Rakyat Baru (NPA). Dalam praktiknya, ini sudah terbetik ke perseorangan yg menyandang tilikan reseptif mengenai rezim Duterte. Jurnalis lalu akademisi pula selaku tujuan penguasa beralaskan kritikan tak bertopang bahwa mereka mendoktrin mahasiswa karena paham kidal lalu merekrut Komunis.

Kasus Filipina menganjurkan kolateral strategis kepada fasih kekangan yg lagi berlantas yg dihadapi perintis kerakyatan pada Thailand. Sejak ujung pameran gencar ala warsa 2020, tindakan pro-demokrasi sudah menjelang langkah-langkah yg semakin represif, terpenting penuntutan undang-undang lalu kesibukan keras suara, yg karena asa membangkitkan kecemasan lalu menghambat kesibukan makin tua. Pengacara Thailand kepada Hak Asasi Manusia, sebuah wadah yg sudah mengasihkan subsidi undang-undang akan perintis yg ditangkap lalu diadili dari perebutan kekuasaan Mei 2014, mengintai bahwa sejak penentangan Pemuda Bebas ala 18 Juli 2020 limit penghujung Mei 2021, sekurang-kurangnya 679 anak Adam sudah dituntut akibat rapat lalu air muka ketatanegaraan. Penuntutan paruh atasan penentangan tercacak lalu mereka yg mengeluarkan pertikaian visi sebagai online mudarat rakyat awam lalu kewenangan berekspresi. Selain pagebluk COVID-19 yg lagi berlantas, konsolidasi sejak faktor-faktor ini memagari kebolehjadian penentangan kebangsaan. Namun, keluhkesah awak mengenai peluncuran vaksin COVID-19 yg sia-sia sama penguasa sudah mengeluarkan ketidakmampuan pemerintahan kali ini lalu menciptakan tipe ketidakpuasan lalu kesempatan kontemporer kepada menggabungkan premis awak yg selebu. Karena itu, tengah patut dilihat apakah tindakan pro-demokrasi hendak mengejang selesai pagebluk terarah pula.

Penguatan Masyarakat Sipil Pascapandemi

Ada testimoni strategis perincian pencipta kearifan lalu kolega rakyat awam yg angsal ditarik sejak studi ini. Membandingkan Thailand lalu Filipina, abdi mendeteksi bahwa menciptakan celah perincian rakyat awam patut selaku jilid terpadu sejak rancangan rehabilitasi lalu pemulihan pascapandemi. Jelas betapa sambutan pagebluk angsal bermain lubuk pinggan kebengisan lalu represi tanah tumpah darah menggelekak sejak apakah sambutan itu konstruktif maupun terpaku lubuk pinggan mengelola penyiaran virus.

Akibatnya, kolega semesta seolah-olah pengebas ketentuan Australia lalu polikel pembelaan transnasional patut mengangkat perintis sidik prinsipil makhluk lalu kerakyatan setempat lubuk pinggan mengadvokasi penguasa kepada sebagai persis mengartikan lalu menghitung pemeliharaan senyampang kuasa mepet. Selain itu, penyelenggara kebutuhan regional lalu semesta angsal memukul karakter terpadu lubuk pinggan mengasihkan gendongan perincian wadah lalu perintis tempatan kepada mengabadikan pemungkiran sidik prinsipil makhluk lalu penyalahgunaan kuasa yg berjalan pada Asia Tenggara. Dengan seperti itu, bernilai kolega semesta maupun kolega setempat angsal menanam akuntabilitas tanah tumpah darah lalu pencegahan kebengisan paser jauh selaku tengah rancangan rehabilitasi pascapandemi.

Author: Ethan Butler