Mengidentifikasi Burung Filipina Di Ambang Kepunahan

AsianScientist (19 Juli 2021) – Berkat deforestasi bersama kemerosotan lingkungan dalam pemandangan berlimpah Filipina, bertambah berjibun kontol polos yg rawan tumbas dari yg diperkirakan sebelumnya—tertanam suku yg mentak belum ditemukan. Temuan ini dipublikasikan dalam Perbatasan jeluk Ekologi bersama Evolusi.

Dengan bertambah sejak 7.000 daratan, gugusan pulau Filipina dianggap selaku hotspot keragaman hayati mondial, memungut sayup 600 suku kontol doang. Sebagian gembung kontol ini endemik dalam dunia ini, artinya mereka tak angsal ditemukan dalam bekas beda.

Dalam sepuluh tahun bontot, besaran suku endemik dalam Filipina suah menyusun sejak 172 sebagai 258—serupa kenaikan yg bertambah gembung dari yg tertumbuk pandangan dalam negara-negara jiran dalam Asia ganal Cina bersama India. Namun, profit jeluk keragaman hayati ini suah rawan sama deforestasi, kemerosotan lingkungan, bersama penindasan hewan garang.

Yang meresahkan, Filipina mendiami runtunan kedelapan dalam negeri fana menurut besaran suku kontol yg rawan tumbas sebagai mondial. Untuk meluputkan burung-burung ini sebelum terlalai, karet akademikus adu cepat mengenali faktor-faktor yg menambah efek kepunahan suku.

Sebuah kerabat kerja yg dipimpin sama karet penelaah sejak Universitas Utah merakit menurut mengerti laksana kontol Filipina tenggang ini serupa lebih-lebih sudah-sudah menyabitkan jaringan tengah kelas proteksi bersama ciri-ciri ganal substansi badan, ideal membantun, edaran ketinggian bersama besaran ovulum yg diletakkan sewaktu berpetarangan.

Mereka mengindra bahwa suku endemik Filipina sebagai berarti bertambah mentak menghadang efek kepunahan. Selain itu, faktor-faktor ganal menarik ketinggian yg ketang bersama substansi badan yg jangkung serta menaruh kontol atas efek kepunahan yg bertambah jangkung. Melalui langkah-langkah ini, karet penelaah mengenali 14 suku yg angsal rawan sebagai mondial, sungguhpun tenggang ini tak diklasifikasikan ganal itu dalam jeluk Daftar Merah IUCN.

“Kami mengandaikan bahwa Elang-Ular Filipina bersama Rangkong Geli, ganda suku yg tenggang ini tak diakui selaku rawan tumbas sebagai mondial, rawan tumbas bersama betul rawan tumbas,” cerita pengarang perdana Mr. Kyle Kittelberger sejak Universitas Utah.

“Kami serta mengandaikan bahwa kontol Merak Palawan, Rel Calayan bersama Burung Hantu Elang Filipina, tiga suku yg tenggang ini diakui sebagai antarbangsa selaku suku yg peka, probabilitas gembung menjadi suku yg rawan tumbas,” tambahnya. “Karena itu, sekalian kontol ini membutuhkan kepedulian proteksi yg bertambah jangkung akibat mereka mentak bertambah rawan dari yg diyakini tenggang ini.”

Pada sudahnya, menuntut ilmu mereka membagikan denah jalan bentar menurut mengenali suku mana yg mentak membutuhkan kepedulian proteksi yg bertambah jangkung, tak belaka dalam Filipina—tapi serta dalam semesta jajahan.

“Hal pertama yg angsal dilakukan Filipina menurut membereskan kontol yakni memberantas tingginya susun deforestasi, kemerosotan lingkungan, bersama penindasan hewan garang, dan menambah pertahanan kapling menurut hewan garang bersama menambah pemodalan menurut jalan proteksi,” mengakhiri Kittelberger.

Artikel termaktub angsal ditemukan dalam: Kittelberger et al. (2021) Korelasi Biologis sejak Risiko Kepunahan atas Avifauna Filipina Resident.

———

Sumber: Universitas Utah; Foto: Cagan Sekercioglu; Ilustrasi: Lam Oi Keat/Majalah Ilmuwan Asia.
Penafian: Artikel ini tak membayangkan pemikiran AsianScientist alias stafnya.

Author: Ethan Butler