Mencerahkan Mengapa Kumbang Bersinar

AsianScientist (10 November 2021) – Setiap warsa, sekeliling tunggal juta wisatawan menggarap penjelajahan ke batang air dengan pandau bakau terasing dekat Asia Tenggara dengan Amerika Utara menurut tunggal arah: menjuling api-api dengan atraksi sorot mereka yg berkilat. Kunang-kunang yakni meleset tunggal berawal membludak lengan bioluminescent berawal superfamili Elateroidea yg mengekspos kompetensi mengutip menurut mengejawantahkan sorot dengan sorot.

Sementara ilmu pisah dengan ilmu faal bioluminesensi dekat elateroid masa ini lengkap terdokumentasi pada mulus, tersisih bertambah minim yg diketahui perkara betapa maupun apa pasal kompetensi berbunga dekat bekas prima.

Sekarang, observasi sama kolompok intelektual yg dipimpin sama Institut Geologi dengan Paleontologi Nanjing berawal Akademi Ilmu Pengetahuan China (NIGPAS) sudah membaca perkembangan bioluminesensi. Studi mereka, diterbitkan dekat Prosiding Royal Society B, mengerti kreasi puak tawon elateroid hangat analitis fosil amber berawal Myanmar Utara.

Meskipun ilustrasi, keturunan api-api yg sudah binasa, berumur sekeliling 99 juta warsa, beliau sudah diawetkan pada ketaatan sebagai cucu Adam berkah fosilisasinya analitis amber. Keberuntungan ini sudah memodali getah perca peneroka ketika garib menurut mempelajarinya pada serpih yg perantau selalu.

“Kebanyakan tawon pengilang sorot berbadan lempung dengan lengkap terbatas, sehingga menyandang minim komentar fosil. Namun, fosil hangat ini terawetkan pada sekali mulus, apalagi perangkat ringkas dekat perutnya tinggal komplet,” sebutan Dr. Cai Chenyang, peneroka dekat Universitas Bristol dengan guru besar dekat NIGPAS.

Menurut getah perca peneroka, kreasi perangkat sorot yakni burhan bahwa tawon bioluminescent sudah terbit mulai daur medio Kapur, dengan saat ini bersesuaian pada saat dabat pemangsa serangga transenden sebagai bancet dengan kontol menginjak berbunga.

“Kami bekerja bahwa penerapan ringkas awalnya berevolusi atas cubung-cubung tawon yg lempung dengan sensitif demi proses proteksi menurut menjaga pemakan,” sebutan Profesor Robin Kundrata berawal Universitas Palack, seorang cakap tawon elateroid. “Itu selepas diambil sama umat waktu serta dengan dikooptasi menurut mengatur guna beda sebagai memeriksa larap.”

Selain pengetahuan yg diberikannya perkara perkembangan bioluminescent, kreasi ini melebihkan dahan gerendel ke tanaman denyut elateroid.

Artikel terkandung sanggup ditemukan dekat: Li et al. (2021) Cretophengodidae, Keluarga Kumbang Kapur Baru, Menjelaskan Evolusi Bioluminesensi.

———

Sumber: Akademi Ilmu Pengetahuan China; Foto: Yang Dinghua.
Penafian: Artikel ini tak merefleksikan wawasan AsianScientist maupun stafnya.

Author: Ethan Butler