Maverick Yang Memberi Mesin Hadiah Penglihatan

AsianScientist (3 Desember 2021) – Bayangkan Anda tengah melungguh dekat bidang datar akan mencaplok petang pula secepat cemeti malaikat, benda meloncat pula merenggut steak Anda. Anda harus pandai, saja memakai mengintip, selaku impulsif melaporkan bahwa kegiatan aram-temaram itu yaitu meong piaraan Anda. Sebuah komputer kabin, dekat segi parak, tiada mau merasa serupa itu sepele.

Sementara jentera waktu ini beroleh memakai bagus mengenal segalanya yg mereka lirik—pikirkan oto yg pandai mengemudi unik maupun identifikasi paras dekat jib gerendel ponsel Anda—mengajari mereka tata cara melakukannya yaitu tantangan yg pernah tercelik per sebanyak dasawarsa silam.

Agar jentera beroleh mengintip seolah-olah khalayak, mereka kudu dilengkapi memakai konstruksi pemrosesan optis yg setara memakai yg digunakan benak khalayak. Hanya secuil karakter yg bertambah mengetahui dalil ini ketimbang Profesor Kunihiko Fukushima, inventor neocognitron, jejaring saraf buatan yg terinspirasi sama benak binatang menyusui.

Membangun punca pengamatan

Sebagai lengah suatu jejaring saraf menyimpangkan start yg beroleh mengintip pula melancarkan, neokognitron Fukushima diakui demi pendek pecah kelanjutan baru jeluk intelek hasil (AI) pula pengajian pengkajian jentera jeluk jejaring saraf. Namun, Fukushima tiada melancarkan karirnya memakai keinginan akan berbicara atas AI — lagipula, aktual atas warsa 1956 terma itu mula-mula serokan diciptakan, yg berjasa bahwa keterampilan tercantum tinggal jeluk era perkembangan atas momen itu.

“Saya tiada terikut atas pengajian pengkajian jentera atas awalnya,” akunya. “Saya bertambah terikut atas benak pula dengan jalan apa penjelasan diproses dekat benak sato.”

Setelah celus memakai julukan Sarjana per Departemen Teknik Elektro Universitas Kyoto atas warsa 1958, Fukushima berkomplot memakai Perusahaan Penyiaran Jepang (NHK). Di kian, dia menjelajahi pengkodean tanda TV dekat NHK Technical Research Laboratories, posterior memungut julukan PhD dekat keterampilan modus operandi setrum per Universitas Kyoto jua.

Pada warsa 1965, Fukushima berkomplot memakai Laboratorium Penelitian Ilmu Penyiaran yg aktual didirikan dekat NHK, dekat mana dia menerka pikiran penelitiannya yg sesungguhnya: teknik pemrosesan penjelasan optis pula pendengaran.

Pada warsa yg setara, bertepatan kerabat kerja insinyur pula tangu biologi, Fukushima mencari jalan mengerti dengan jalan apa tanda optis pula pendengaran yg disiarkan melewati radio TV diterima pula diproses sama benak biologis—jurusan kemunca per tanda tercantum.

Berfokus atas korteks optis binatang menyusui, maupun konstruksi benak yg bertanggung sambutan akan membereskan rangsangan optis, dia menginjak membikin jenis jejaring saraf dekat korteks optis akan bertambah mengerti segalanya yg berlaku dekat benak momen mengintip lakaran.

Salah suatu jejaring saraf start yg dirancang Fukushima didasarkan atas jenis korteks optis pertama meong dekat mana sepasang tipe organ, wajar pula himpunan, bermain jeluk identifikasi contoh. Dengan menyerupai sel-sel ini pula mengaturnya selaku hierarkis, jejaring saraf yg aktual jebrol menang mengingat lakaran pula contoh.

Struktur pendek jejaring saraf yg dibangun sama Fukushima atas warsa 1975. (Sumber: Kunihiko Fukushima)

Saat disajikan memakai lakaran, organ mau bereaksi mengenai pias melentur, walakin tiada lempeng. Beroperasi atas rukun ini, jenis Fukushima beroleh memakai unggul mengingat pula menelaah garis-garis lakaran, membandingkannya memakai himpunan informasi dalam lakaran akan menunjuk segalanya itu.

Cara menggodok benak hasil

Sementara mengingat lakaran yg persis yaitu satu penampilan privat, Fukushima jua kenyir modelnya jua menyandang kapasitas akan melancarkan—mengenali lakaran pula contoh aktual yg belum dilatih selaku pedoman sama getah perca pengkaji.

Dengan memajukan tumpukan jejaring pula melengkapinya memakai tipe pengajian pengkajian sonder inspeksi yg disebut pengajian pengkajian masuk akal, Fukushima menang menciptakan jejaring yg beroleh mengingat contoh selaku independen sonder inspeksi.

“Kami memberinya panggilan cognitron, meleburkan pengartian pula -tron. Namanya mengarah-arahi memakai perceptron, yg meleburkan apresiasi pula -tron. Perceptron—kenamaan atas 1950-an pula 1960-an—membonceng algoritma pengajian pengkajian terawasi,” katanya.

Langkah sesudah itu yaitu mengajukan kapasitas kognitron akan mengingat contoh yg diskalakan, digeser, maupun dikaburkan jeluk sebanyak tata cara.

Itu yaitu kasus yg berbahaya, pula Fukushima mendapatkan dirinya pulang ke eksperimen sebelumnya akan ilmu faal benak akan gerak hati: ialah tektum optik, konstruksi pemrosesan optis dekat benak yg mewarisi input serta merta per retina.

Dia terikut memakai dengan jalan apa korespondensi saraf sela retina pula tektum optik mau beregenerasi unik selepas terpenggal, apalagi asalkan sebelah tektum maupun retina dihilangkan bersaingan memakai penyembelihan start.

“Ini mengilhami ana akan menawarkan organ asal mula yg beroleh mengejawantahkan jejaring, mengizinkan jejaring saraf akan mengelompokkan sendiri unik akan merawat ihwal korespondensi bertepatan,” tentu Fukushima.

Modifikasi ini menyelenggarakan cognitron bersih bertambah bulat, bertambah berangkap pula sanggup mengelompokkan sendiri unik, sehingga menghadirkan neocognitron, jejaring saraf berangkap memakai kapasitas identifikasi lakaran yg bertambah berkembang. Pada warsa 1980, Fukushima membuat model neokognitronnya, yg menyabitkan pendek akan jejaring saraf buatan jeluk sebanyak dasawarsa yang akan datang.

Dengarkan suatu, pahami sepuluh

Kemampuan jejaring sejenis itu akan mengingat lakaran pula contoh waktu ini mendendangkan karakter yg bukan alang kepalang lebar jeluk denyut baru, menginjak per kodak takat orde keselamatan pula oto yg beroleh mengemudi unik. Tetapi dekat masa-masa start neocognitron, Fukushima tiada berpandangan bahwa pengajian pengkajian jentera maupun AI selaku kesemestaan atas kesimpulannya mau selaku serupa itu lebar.

“AI atas 1980-an bukan alang kepalang divergen memakai yg tercelik waktu ini,” kenangnya. “Pada momen itu, AI hanyalah modus operandi sedikit.”

Namun waktu ini, Fukushima mencita-citakan pelaksanaan pula kapasitas teknologi akan langsung meningkat.

“Di Jepang, aku menyandang perbahasaan ijmal bahwa kali Anda “mengikuti suatu, mengerti sepuluh”, yg berjasa menurut suatu sebutan pernah utuh akan mencapai definisi per sepuluh sebutan. Saat ini, AI mengikuti miliaran karakter pula mengerti jutaan karakter,” katanya. “Tetapi jurusan AI dekat era pendahuluan yaitu mengikuti jutaan karakter pula mengerti miliaran.”

Demikian jua, Fukushima unik tiada berhajat melambat. Pada umur 85 warsa, dia kukuh selaku pengkaji yg berjalan pula fertil—suah membuat karangan hampir-hampir setiap warsa per 1961, memakai edaran terbarunya atas Januari 2021, pula momen ini tengah menyelenggarakan jejaring yg saja membutuhkan secuil informasi training.

Pada momen yg setara, perambah yg kecil lever langsung menangani operasi eksperimen aslinya: akan mengerti teknik benak, memakai santunan modus operandi AI yg setara yg suah dia meneroka.

Sebagai seorang pengkaji yg karirnya suah menghampar bertambah per seperdua seratus tahun, pula yg dampaknya mau langsung bergaung semasih sebanyak dasawarsa bertambah, fatwa Fukushima terhadap pengkaji kecil yaitu akan sepanjang masa merenungkan eksperimen per sains lingkungan dekat pendatang bidangnya unik, terpenting kali dihadapkan atas kasus yg kudu dipecahkan.

“Cobalah merekam bacaan,” tutupnya. “Itu selaku bersahaja mau memaksamu akan melakukannya.”

———

Hak Cipta: Majalah Asian Scientist; Foto: Kunihiko Fukushima.
Penafian: Artikel ini tiada merepresentasikan langkah AsianScientist maupun stafnya.

Author: Ethan Butler