Kesenjangan Kekayaan Mendorong Perdagangan Satwa Liar Global, Studi Mengatakan

AsianScientist (9 Juli 2021) – Menurut paruh penyelidik sejak Hong Kong, ketaksimetrisan modal yg berkembang—diperburuk sama COVID-19—kuasa meninggikan debit bazar garis besar selanjutnya mengerikan hewan ganas. Temuan mereka dipublikasikan pada Kemajuan Ilmu Pengetahuan.

Meskipun kata ‘bazar hewan ganas’ kuasa membangun cerita tindakan tabu yg dilakukan pada sisi belakang tameng sore, memang merujuk ala cakupan yg besar sejak barang sehari-hari. Dari jalin kehidupan yg kita tujum pada akuarium vila tenggat pokok yg berusul sejak satwa lombong obat-obatan selanjutnya kosmetik, preman sejak kita kena arti sejak bazar hewan ganas sahih oleh wahid maupun parak kaidah.

Namun, epidemi COVID-19 yg tengah berlanjur suah menyebabkan bazar hewan ganas diamati bertambah kepil. Sementara asal-usul memang sejak SARS-CoV-2 konstan bukan terang, virus terkandung diyakini suah menghambur ke umat melangkahi bazar hewan ganas—yg menuju ala rem pemakaian satwa bumi ganas pada China.

Untuk menekuni aliran garis besar bazar hewan ganas, paruh penyelidik sejak Universitas Hong Kong (HKU) selanjutnya Universitas Lingnan (LU) menjabarkan premis informasi bazar hewan ganas sahih garis besar. Melihat informasi semasih 20 warsa—berangkat sejak tangkur akan penyembuhan usang tenggat lauk sturgeon yg ditangkap pada langit ganas akan akuakultur—diperkirakan 421 juta person satwa diperdagangkan selaku garis besar.

Para pengarang mendeteksi bahwa negara-negara berada sungguh-sungguh bertanggung sambutan pada sepihak gendut bazar hewan ganas semesta. AS, Prancis, selanjutnya Italia yaitu tiga importir satwa ganas ternama selaku garis besar, sedangkan pada Asia, negara-negara berada lir China, Singapura, selanjutnya Jepang segenap mewujudkan importir cemerlang barang hewan ganas.

Sementara itu, negara-negara berpenghasilan sedikit sepihak gendut mengekspor barang hewan ganas akan menyesaki anjuran rekan-rekan pada perdagangan yg bertambah berada. Negara oleh penguasaan perbekalan yg bertambah bernilai lir Indonesia, khususnya, mengekspor bertambah ekstensif barang hewan ganas.

Secara keutuhan, terbit ketidaksetaraan yg menjolok sempang eksportir selanjutnya pengimpor barang hewan ganas, oleh pengimpor lazimnya bertambah bernilai pada seluruh metrik kemasyarakatan perdagangan. Contoh kisah: kemitraan bazar terbesar yg tercantum lombong meriset ini yaitu sempang AS (pengimpor) selanjutnya Indonesia (eksportir), oleh yg prima memegang PDB masing-masing orang 20 darab lepit sejak yg ekor.

Sementara promosi regulasi pascapandemi kuasa menyusutkan bazar hewan ganas lombong jangka lengkung cepak, imbas COVID-19 yg bukan setakar mengenai perdagangan garis besar suah memperburuk ketidaksetaraan modal pada sempang negara-negara. Mengingat interelasi aktual sempang ketidaksetaraan modal selanjutnya rekan hewan ganas garis besar, epidemi probabilitas kuasa mendongsok promosi bazar hewan ganas semesta lombong jangka lengkung jauh.

Menurut pengarang, temuan mereka menyuluhi pentingnya akal akan menyusutkan anjuran barang hewan ganas pada negara-negara berada melangkahi persuasi kesadaran maupun sulih barang. Pendekatan kontak ini kalau-kalau bertambah sebanding selaku kemasyarakatan dibandingkan oleh rem global mengenai pemanenan hewan ganas yg kuasa berakibat ala komune sensitif yg bergayut ala bazar.

“Satu amaran yaitu bahwa anjuran sejak negara-negara berada yg mendongsok penjeratan selanjutnya bazar hewan ganas sejak negara-negara melarat/berpenghasilan sedikit. Artinya, nasabah berada pada kerajaan berada bertanggung sambutan akan mengadakan zat akan memeram anjuran selanjutnya keserakahan mereka mengenai barang hewani,” sahap Profesor Emeritus David Dudgeon sejak HKU.

Artikel terkandung kuasa ditemukan pada: Liew et al. (2021) Ketimpangan Sosial Ekonomi Internasional Mendorong Pola Perdagangan pada Pasar Satwa Liar Global.

———

Sumber: Universitas Hong Kong; Foto: Shutterstock.
Penafian: Artikel ini bukan menggambarkan tinjauan AsianScientist maupun stafnya.

Author: Ethan Butler