Dua Dari Asia Tenggara Menangkan Science Prize for Women 2021

AsianScientist (5 November 2021) – Dr. Li Hongying berawal Singapura selanjutnya Dr. Neni Sintawardani berawal Indonesia mencium penghargaan Underwriters Laboratory-ASEAN-US Science Prize for Women 2021. Pemenang diumumkan atas 13 Oktober kalakian.

Sejak 2015, Komite ASEAN menurut Sains, Teknologi, selanjutnya Inovasi—bersekutu bersama Badan Pembangunan Internasional AS selanjutnya Underwriters Laboratories nirlaba garis besar—setiap tarikh merilis Science Prize for Women menurut melegalkan penerimaan cendekiawan perempuan pada sarwa Asia Tenggara.

Kandidat sanggup bersumber berawal beraneka ragam konteks STEM, berawal akademisi sempadan unit komunitas selanjutnya privat sempadan sistem komunitas awam. Dengan menyuluhi kejayaan mereka, penghargaan ini diharapkan sanggup menyulut jalan riset kian berumur selanjutnya menginspirasi perempuan ASEAN kurun dewasa hadapan pada STEM.

Tema hibah tarikh ini ‘Clean Air & Water’ menyuluhi dengan cara apa getah perca cendekiawan berinovasi jalan keluar menurut memadamkan penyakit jagat yg mendorong, bersama seputar 110 juta insan tak mengantongi kanal ke tirta reguk yg damai pada Asia Tenggara. Dengan urbanisasi yg lekas pada zona ini, lantai pengotoran angin yg menggelisahkan saja sanggup merusuhkan derajat nasib, tergantung bersama penyakit kebugaran seakan-akan kelainan rabu selanjutnya dalaman.

Untuk memadamkan keresahan yg mendorong ini, Sintawardani—penelaah sempurna regu Teknologi Bersih pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia—mempelopori peningkatan kilang biogas menurut membersihkan udara bersengat seakan-akan metana selanjutnya zat arang dioksida berawal pancaran tirta sampah kilang.

Dengan mengadaptasi tirta sembari mengganti dorongan lubuk pinggan udara sebagai setrum, karyanya suah menumpu menaikkan pola sanitasi komunitas selanjutnya menaikkan kesiapan tirta safa pada Indonesia, pada mana kian berawal 20 juta insan tak mengantongi kanal ke tirta safa. Untuk kontribusinya yg berakhir, Sintawardani mengait Penghargaan Sains menurut Wanita lubuk pinggan grup cendekiawan atasan.

Untuk grup cendekiawan karir medium, penelaah jago, Li, bersumber berawal Institute of High Performance Computing (IHPC) pada Agency for Science, Technology and Research (A*STAR) Singapura.

Melalui versi gerak zat alir komputasi, yg mewujudkan algoritme energik yg meramalkan dengan cara apa zat alir terlahir, beliau menggasak pengotoran pada ekosistem samudra selanjutnya penjangkitan kelainan menerobos angin.

Untuk membentengi aktivitas samudra, versi Li mendatangi atas pemrograman Sistem Pengelolaan Air Ballast Semb-Eco yg benar-benar berdaya guna, yg menggasak penyingkiran tirta meladeni sebelum terlahir ke samudra. Dia saja mengerjakan profesi pemodelan menurut mensimulasikan dengan cara apa tetes terhambur pada angin, menumpu mengantisipasi akibat penjangkitan COVID-19.

Sementara itu, honorable mention diberikan menjelang Dr. Aduwati Sali berawal Universiti Putra Malaysia selanjutnya Dr. Seinn Lei Aye berawal Myanmar University of Yangong lubuk pinggan grup mid-career selanjutnya atasan scientist. Finalis dalam negeri saja dipilih selanjutnya diakui menurut tiap-tiap berawal 10 dunia elemen ASEAN.

———

Sumber: Science Prize For Women; Ilustrasi: Ajun Chuah/Asian Scientist Magazine.
Penafian: Artikel ini tak membayangkan tatapan AsianScientist alias stafnya.

Author: Ethan Butler