Biaya Ritme Sirkadian yg Terganggu

Ilmuwan Asia (27 Desember 2021) –Meskipun mudah-mudahan terganggu menjumpai begadang sejauh sore semasa pakansi sekali lalu menikmati hit Netflix terbaru, Anda mudah-mudahan mau memikirkannya mudik. Menurut sebuah belajar sejak Ilmu Saraf Kimia ACS, provokasi atas irama sirkadian—sejak gara-gara sebagai tekanan, jetlag, alias beker mendengkur yg tak terkendali—angsal ada kesan tekun sebagai hiperaktif dengan kegelisahan had minus kesan dengan promosi efek provokasi neurologis.

Studi terbaru atas tikus sudah menyuratkan bahwa malahan uraian cerah kritis angsal merusak irama sirkadian, mendatangkan minus kesan sebagai yg tertumbuk pandangan atas provokasi neurologis sebagai kelainan Alzheimer (AD). Namun, jaringan kausalitas jarak AD dengan provokasi irama sirkadian lagi belum sabit.

Sebuah satuan kerja penyelidik sejak Universitas Shoolini dalam India sebelumnya sudah mencium bahwa tikus yg terpapar cerah semasa kembar kamar menyuratkan minus psikologis dengan penambahan amiloid (Aβ), zat putih telur yg diketahui melengkungkan plak gawat dalam benak penderita AD. Hal ini menyebabkan mereka mengambil risiko bahwa uraian cerah yg bertambah periode angsal menyebabkan provokasi irama sirkadian yg mendatangkan kenyataan menyerupai AD.

Untuk menjajal premis ini, mereka merusak irama sirkadian tikus masa via menje-laskan mereka atas pembatasan cerah stabil semasa catur kamar.

“Sel sejak majemuk alat bermakna awak disinkronkan via daur siang-malam, dengan melucutkan entitas biokimia yg berlainan terhitung hormon bermakna tenggat spesial. Ekspresi hormon ini sebelum waktunya angsal menembakkan kegelisahan, provokasi psikologis dengan kemusnahan kesan, sekotah kenyataan provokasi benak sebagai AD,” logat pengarang ulung Profesor Rohit Goyal sejak Universitas Shoolini.

Benar sekadar, getah perca penyelidik mencium bahwa tikus yg tersentuh pembatasan cerah stabil menyuratkan minus kesan dengan psikologis dibandingkan via tikus yg menghadapi daur terang-gelap salim.

Pada susun biologis, getah perca penyelidik mencium bahwa uraian cerah kritis merusak air muka gen sebagai Per2 yg menjejaki irama sirkadian. Tikus jua menyuratkan neurotransmiter yg tak terkendali dengan tanda-tanda tekanan oksidatif dalam jajahan benak yg mendominasi irama sirkadian. Tingkat Aβ yg berbaur jua selaku bermakna bertambah semampai dalam benak tikus-tikus ini.

Hipotesis penyelidik berikutnya merupakan bahwa fluoxetine, penawar yg digunakan menjumpai memulihkan kegelisahan dengan hiperaktif, angsal mempermudah penyimpangan fisiologis dengan fungsional yg terikat via provokasi irama sirkadian. Ketika mereka membagikan penawar atas tikus yg terpapar cerah, penawar itu makbul mencegah pembengkakan oksidatif, penambahan A, dengan mengamankan kesan dengan minus psikologis.

Studi ini menyuratkan bahwa promosi Aβ dengan irama sirkadian yg tergoda sendiri-sendiri angsal menembakkan yg beda, membanjarkan teater menjumpai pembatasan neurologis sebagai AD. Untungnya, langkah-langkah pencegahan yg membanjarkan irama sirkadian angsal protektif sejak keadaan itu, logat getah perca penyelidik.

“Perubahan tenaga nasib yg memanggul uraian cerah natural diikuti via jeda yg solid dalam sore musim angsal sebagai kancing menjumpai menghambat efek provokasi neurologis. Strategi terapeutik menjumpai mengintensifkan tenggat sirkadian atas bakal penderita bukan alang kepalang menjanjikan menjumpai menopang kelaziman DA,” bundel Goyal.

Artikel tertulis angsal ditemukan dalam: Sharma et al. (2021) Neuroprotektif Efek Fluoxetine atas Penanda Molekuler sejak Circadian Rhythm, Defisit Kognitif, Kerusakan Oksidatif, dengan Biomarker Patologi Seperti Penyakit Alzheimer yg Diinduksi dalam sisi belakang Rezim Cahaya Konstan kritis atas Tikus Wistar.

———

Sumber: Universitas Shoolini; Foto: Unsplash.
Penafian: Artikel ini tak membayangkan keputusan AsianScientist alias stafnya.

Author: Ethan Butler