Bagaimana Kesadaran Risiko Dapat Mengurangi Konsumsi Satwa Liar

AsianScientist (18 Oktober 2021) – Dengan kesadaran yg makin berdus berhubungan COVID-19, orang boleh jadi dilarang memakai kreasi binatang anggara, membuka peninjauan dekat lima zona Asia. Hasilnya, dipublikasikan dekat Ekologi & Evolusi Alam, kuasa membidik ala campur tangan yg makin gemulai akan menyulih suara perbuatan pelanggan, menaikkan pengawetan dengan kebugaran paguyuban sebagai bersaingan.

Di semua kosmos, kreasi binatang anggara yakni mangsa tunas berisi beraneka warna makanan, acap dilihat demi potongan mulai rasam dengan operasi pikiran. Namun, tingginya pemakaian binatang anggara kuasa menerbitkan gertakan pecah kemajemukan hayati, sama besaran rumpun yg ciut sebab tempahan pelanggan yg tidak henti-hentinya.

Selain menyantuni usaha pengawetan, mengambil pemakaian binatang anggara pula kuasa selaku potongan vital berisi mengambil penyaluran kelainan menurun. Sejarah ada urutan berjarak kaki tangan pengantara kelainan, tercantum SARS-CoV-2, yg sudah memintasi partisi rumpun dekat sebagian kurik, terjun mulai fauna ke insan dengan melainkan.

Ketika pagebluk menyampuk, getah perca sarjana bergegas akan membentangkan asal-usul kelainan, sama kelelawar dengan trenggiling dekat jarak fauna yg terjerat berisi persoalan. Ketika deklarasi menabur berhubungan peluang penyaluran virus mulai kelelawar ke insan, sebuah delegasi antarbangsa sangat suka mengerti apakah COVID-19 berpengaruh ala pemahaman umat lawan pemakaian binatang anggara.

Survei tercatat menyoalkan 5.000 umat mulai Hong Kong, Jepang, Myanmar, Thailand, dengan Vietnam berhubungan cermin pemakaian binatang anggara mereka sebelum dengan setelah pagebluk, peluang mereka akan mengulak binatang anggara dekat abad front, dengan kesadaran mereka yg dilaporkan individual berhubungan COVID-19. Meskipun bercokol modifikasi demografis, kandidat yg membelokkan pulih berhubungan COVID-19 ada peluang engat 24 upah makin renik akan mengulak kreasi binatang anggara.

Namun yg memberangsang, duet zona mengungkapkan kepastian yg bersalahan. Di Vietnam, mereka yg ada kesadaran makin semampai makin boleh jadi akan meninggikan pemakaian, tengah kandidat mulai Myanmar menyebut peluang yg makin berdus akan pembelian binatang anggara dekat abad front.

Temuan ini menolakkan gejala akan merancang propaganda pemberadaban yg makin mujarab berhubungan pemakaian binatang anggara. Menurut getah perca pengkaji, kontak berisiko yg memberlakukan jejaring kemasyarakatan bukannya orang kuasa menyantuni menyulih suara pemahaman dengan perbuatan. Namun, mereka pula menyelentik bahwa penghampiran berbasis bukti yg perdata diperlukan akan meraba sensitivitas pikiran dengan penyorong tempahan binatang anggara lainnya.

“Mendasarkan campur tangan modifikasi perbuatan tersembunyi ala bukti terpilih yg tersuguh dengan penghampiran valid mengambil peluang hasil minus yg tiada diinginkan momen melancarkan dekrit kebijaksanaan berhubungan pemakaian binatang anggara dengan kuasa amat meninggikan efektivitas dengan kesangkilan propaganda ini,” getah perca penggubah menalikan.

Artikel tercatat kuasa ditemukan dekat: Naidoo et al. (2021) Korelasi Sosio-demografis Konsumsi Satwa Liar Selama Tahap Awal Pandemi COVID-19.

———

Sumber: Dana Margasatwa Dunia; Foto: Shutterstock.
Penafian: Artikel ini tiada merefleksikan wawasan AsianScientist maupun stafnya.

Author: Ethan Butler