Ayta Pribumi Filipina Membawa Keturunan Denisovan Paling Banyak

AsianScientist (18 Agustus 2021) – Membawa sinyal silsilah khalayak jeluk DNA mereka, ikatan bumiputra Filipina yg disebut Ayta Magbukon menyimpan total turunan Denisovan terbaik dekat bumi. Temuan ini dipublikasikan dekat Biologi Saat Ini.

Sebelum pesawat udara mengudara bersama kapal penyeberangan yaum ini, khalayak kuno telah sebagai rutin menggarit, mengimbit ke pertiwi kontemporer bersama bersuami salib dekat celah komunitas yg beraneka warna. Hominin purbakala yg dikenal demi Denisovans, misalnya, pernah berhimpun via pendahulu Australasia—ikatan yg merangkap anak Adam Australia, anak Adam Papua, bersama anak Adam Negrito Filipina.

Namun, kaya bermula silsilah yg baku terikat ini belum terkuak. Jejak DNA cikal bakal atas khalayak trendi merapikan nas kasus peramuan periode silam, lamun belum lama paruh penelaah pernah melukiskan bersama menyelisik fakta genom bermula komunitas yg rendah terwakili, khususnya dekat celah ikatan bumiputra Filipina.

Untuk menguasai hubungan lingkungan celah Denisovans bersama Australasia, kontingen universal menyidik makin bermula rangkap juta genotipe bermula 118 ikatan kesukuan dekat Filipina, mendapatkan tajuk substansial DNA Denisovan dekat celah komunitas Negrito.

Dipimpin sama Dr. Maximilian Larena bersama Prof. Mattias Jakobsson bermula Universitas Uppsala Swedia, tenaga kolaboratif super menyeret-nyeret berbagai macam maktab regional dekat Filipina sepantun publik pikiran, universitas bersama komponen penguasa, teperlus Komisi Nasional Masyarakat Adat bersama Komisi Nasional Kebudayaan bersama Seni.

Sementara fakta membagul peramuan yg diketahui celah pendahulu Negrito bersama Denisovans, kreasi mencengangkan kontingen sama dengan mendapatkan runut genetik Denisovan substansial yg keteter atas orang-orang Ayta Magbukon Negrito. Aytas memperoleh sekeliling lima bayaran DNA mereka bermula Denisovans—yg menjolok 30 sempadan 40 bayaran makin kaya ketimbang Dataran Tinggi Papua ketika ini, yg sebelumnya dianggap demi ikatan via pendahulu menyimpangkan Denisovan.

Saat mereka mengurus ecek-ecek kebolehjadian cermin bersuami salib, paruh penelaah pun mendapatkan dengan cara apa pluralitas tajuk DNA purbakala menjengul walaki pendahulu baku terikat. Garis turunan Denisovan yg tersaku kelihatannya pernah menaiki lukisan evolusioner saja selesai kelompok-kelompok Negrito-Papua pernah menyerong, yg membidik ke kasus peramuan merdeka bersama runut Denisovan yg makin super dekat celah orang-orang Negrito.

Studi ini bukan saja memahat tukas penceritaan yg beraksi dekat sekeliling silsilah bergabung anak Adam Australasia, lamun pun mengagih pandangan terhadap parak evolusioner celah Ayta Magbukon bersama ikatan kesukuan Negrito lainnya.

Menurut penelaah, Negrito belum lama bersuami via migran Asia Timur, yg menyunggi minim DNA Denisovan. Dengan mempromosikan garit turunan Asia Timur, peramuan ini sebagai tuding melemahkan pendahulu purbakala komunitas Negrito, menyerkup runut Denisovan via kolom genetik lainnya.

Tapi gara-gara pendahulu Denisovan mereka regular jangkap, ikatan Ayta Magbukon kebolehjadian menyimpan minim peramuan via komunitas Asia Timur dibandingkan via mahajana tata susila Filipina lainnya.

Bersamaan via kreasi fosil hominin warsa 2019 yg dijuluki Homo luzonensis, garit nas yg menjengul ini mengasosiasikan Filipina purbakala, via sekitar marga cikal bakal yg kelihatannya terikat sebagai genetik menghuni pulau-pulau itu sebelum khalayak trendi sampai.

“Secara kebulatan, temuan beta mengungkap silsilah susah yg baku terikat bermula khalayak trendi bersama purbakala dekat zona Asia-Pasifik, dekat mana komunitas orang tanah Denisovan yg bertentangan berhimpun sebagai bertentangan via anak Adam Australasia yg masuk dekat berbagai macam kedudukan bersama atas berbagai macam poin periode,” paruh penggubah menalikan.

Artikel sanggup ditemukan dekat: Larena et al. (2021) Ayta Filipina menyimpan tajuk turunan Denisovan terbaik dekat bumi.

———

Sumber: Universitas Uppsala. Foto: Shutterstock.
Penafian: Artikel ini bukan menggambarkan tinjauan AsianScientist ataupun stafnya.

Author: Ethan Butler