Alatas bersama pemahaman swatantra – Mandala Baru

Artikel ini didasarkan atas bersinar-sinar berkepala “Alatas bersama Pengetahuan Otonom” yg mau dipresentasikan pada ANU Malaysia Institute Seri Seminar 2021 atas Kamis, 30 September 2021 – 16:00 ke 17:10 (AEST). Anda bisa mencatat menjelang mengikuti bersinar-sinar menyusuri pekarangan rencana.

pembawa

Periode pendirian ide Syed Hussein Alatas ialah rentang waktu penjajahan Eropa, khususnya pada Malaya Inggris bersama Hindia Belanda. Saat selaku mahasiswa pasca pakar pada Universitas Amsterdam, dia menoreh segala sesuatu yg terang mewujudkan tindakan pertamanya atas hal penjajahan (“Some Fundamental Problems of Colonialism”, Dunia Timur, 1956). Di sini, dia memisah hal yg diciptakan sama penjajahan ke tinggi tiga grup. Pertama, hal bodi bersama material, misalnya perhumaan, korespondensi, bersama perumahan. Yang kedua ialah hal institut, yg menumpu masalah-masalah semacam rantai perdagangan bersama industrialisasi, tata usaha ketatanegaraan bersama pemeliharaan, kesentosaan kemasyarakatan, bersama sebagainya. Ketiga, hal sosiologis, kognitif, bersama akhlak yg ditimbulkan sama penjajahan. Alatas yakin bahwa pada sinilah penjajahan melahirkan keburukan terbesar, bersama pada sinilah penyempurnaan hal mula-mula bersama kedua macet. Bahkan posterior, Alatas maha- memusatkan tabiat elit tinggi pengolahan, mengukir bahwa elit administrator yg dibina atas era kolonial bukan memegang skema ide yg terstruktur beserta terbuka, sebab bukan bisa mensintesis peninggalan pikiran bersama ide Barat mereka. Dalam bacaan Dunia Timurnya, Alatas pula mengukir mengajuk ringan batang tubuh pada percaturan elit.

Perasaan ringan batang tubuh yg tersirat tinggi kelakuan mereka definit terus disebabkan sama situasi babad bersama kemasyarakatan yg kian ijmal, sebab diakui bahwa kalau-kalau unik negeri didominasi sama negeri parak menjelang tenggat yg tamam tempo, seserpih kelompok merasa bahwa kelianan mereka membekas. tinggi upaya serupa mereka, bersama menghitung bahwa yg mengontrol selaku pembawa supremasi bersama kapasitas mereka. Untuk mematikan perasaan ketidaksetaraan ini, mereka menyongsong upaya menguntit. Klasifikasi geng ini bukan didasarkan atas konsepsi ketatanegaraan. Mereka bisa ditemukan pada sela-sela mereka yg reformis ataupun reaksioner, yg membagul ataupun mengecam kebebasan melantas, bagian perdagangan semampai bersama ringan, administratur bersama anak kebanyakan.

Belakangan Alatas mengganti perhatiannya atas format perdagangan ketatanegaraan penjajahan. Hakikat kelompok kolonial dipahami tinggi rongkongan konsepsi kapitalisme kolonial, sebuah inspirasi yg dibahas tinggi tindakan demistifikasi bersama dekonstruksinya, Mitos Penduduk Asli yg Malas, diterbitkan atas warsa 1977. Dalam tindakan ini, minat atas elit dalam negeri penjiplak yg menginternalisasi aspek-aspek spesifik bermula pemikiran kolonial digabungkan beserta format perdagangan ketatanegaraan kapitalisme kolonial. Beberapa inspirasi Eropa atas anak negeri berjalan selaku sektor penulis pemikiran kolonial menjelang menamakan keperluan kapitalisme kolonial. Di pada segalanya, Alatas gobar hati beserta tabiat bersama keburukan pengisahan kolonial atas warga ikhlas bersama betapa gambar-gambar ini diinternalisasi bersama dipercaya.

Alatas ialah perbandingan pakar dekolonial yg jebrol atas era kolonial bersama menempuh kebebasan ketatanegaraan. Dia membelokkan paham menjelang nya Mitos Penduduk Asli yg Malas, yg keluar atas warsa 1977, namun sebelumnya menoreh komentar atas pemikiran bersama implementasi kolonial tinggi lengkung penskalaan responsif atas filosofi bersama kelakuan ketatanegaraan penegak kolonial Singapura, Thomas Stamford Raffles (Thomas Stamford Raffles: Schemer ataupun Reformator, 1971). Konsekuensi sensibel bermula kritiknya atas pemahaman kolonial bersama keuletan Eurosentrisme tinggi penerapan pemahaman pada butala pasca-kolonial ialah seruan menjelang pemahaman swatantra.

Sekolah Pengetahuan Otonom

Pada warsa 1979, Alatas suah menoreh atas perlunya budaya kemahiran kemasyarakatan yg swatantra pada Asia, yg dia maksudkan “melekatkan investigasi bersama ide kemahiran kemasyarakatan beserta masalah-masalah Asia selaku terpilih” (“Menuju Tradisi Ilmu Sosial Asia”, Quest Baru 17, 1979). Ini mau membutuhkan rekognisi “ukuran penerimaan yg distingtif bermula mandala tercatat”. Ia bukan berkehendak cuma meninjau isu-isu dalam negeri beserta teknik yg kategoris. Dalam “Pengembangan Tradisi Ilmu Sosial Otonom pada Asia: Masalah bersama Prospek” dia menyiasati ciri-ciri budaya swatantra: (1) rekognisi bersama penuntasan masalah-masalah spesifik; (2) aplikasi teknik spesifik; (3) pengertian isyarat spesifik; (4) invensi konsepsi mutakhir; bersama (5) kaitannya beserta cabang-cabang kemahiran lainnya.

Di ajang parak, Alatas meriap bahwa budaya swatantra cuma mau keluar kalau-kalau jadi kesadaran mau hajat menjelang permisif bermula kadar budaya jauhari eksternal yg hegemonik semacam yg dimiliki sama kapasitas kolonial sebelumnya. Alatas memegang psike yg bernafsu. Dia menyegani anasir bernafsu tinggi kemahiran pemahaman, yg menurutnya bukan tamam bertambah pada Asia. Dia yakin atas karakter pertengkaran bermula ilmu-ilmu kemasyarakatan, menjelang mengecam kolonialisme bersama hemat yg terikat, bersama menjelang mencoret yg melenceng bersama haram.

Sekitar heksa periode yg kalakian, Ibnu Khaldun menjumpai kemahiran mutakhir yg disebutnya kemahiran kelompok insan (science of human society).ilm al-ijtima al-insani). Tentang ini ia bersuara:

Mungkin semua pakar posterior, dibantu sama nikmat ilahi bermula hemat yg enak bersama darma siswa yg keras, mau menerus hal ini selaku kian rinci dari yg kita lakukan pada sini. Seseorang yg menciptakan kekhususan mutakhir bukan memegang kewajiban menjelang membagi segala hal kepala yg terikat dengannya. Tugasnya ialah menjelang memutuskan topik kekhususan bersama beragam cabangnya bersama musyawarah yg berpautan dengannya. Penggantinya, posterior, selaku beruntun bisa menambuh kian deras hal, datang kekhususan serius disajikan (Muqaddimah, mabuk. Franz Rosenthal, London: Routledge bersama Kegan Paul, 1958, vol. 3, keadaan. 481).

Alatas mencukil sektor ini bermula Ibn Khaldun, posterior menyinambungkan beserta aplikasi ini:

Bolehkah gua mengantarkan pada sini, suruhan bermula Ibn Khaldun akan Asosiasi Sosiologi Internasional, bahwa tinggi Kongres Sosiologi Dunia yg mau muncul, sebuah pusingan atas budaya ilmu masyarakat swatantra mau dibuat? Ini mau memfatwakan perdua ahli sosiologi pada semua butala menjelang menghimpunkan minat mereka atas hajat yg maha- radikal ini menjelang peningkatan ilmu masyarakat (“The Autonomous, the Universal and the Future of Sociology”).

Sementara ini mewujudkan seruan jatah ahli sosiologi menjelang berputar pada sejauh jalur pemahaman swatantra, Alatas tunggal suah menciptakan budaya sejenis itu yg dimulai pada kelompok Studi Melayu. Departemen Studi Melayu pada National University of Singapore memegang budaya menciptakan artikel pengganti menjelang Orientalisme bersama Eurosentrisme. Departemen ini didirikan sama Alatas atas warsa 1967 bersama dipimpin olehnya selagi nyaris duet sepuluh tahun. Selama rentang waktu itu, penghampiran distingtif tinggi ilmu masyarakat bersama ilmu-ilmu kemasyarakatan lainnya keluar bersama mempengaruhi deras mahasiswa yg dilatihnya yg posterior bercantum beserta biro selaku pengajar. Kajian Melayu, selaku kelompok penyelidikan yg investigatif tinggi ilmu-ilmu kemasyarakatan, dikembangkan beserta penghampiran yg distingtif bersama sejati sama Alatas.

Pendekatan itu keluar, pertama-tama, tinggi tulisannya. Contohnya terhitung investigasi historis bersama sosiologis atas pemikiran kolonial beserta primer atas makulat ketatanegaraan Raffles bersama kepercayaan kesungkanan Melayu, Jawa bersama Filipina, kritiknya atas kolonialisme jauhari.

Beberapa pengikut Alatas menoreh taslim budaya kemahiran kemasyarakatan yg swatantra. Kajian kembali Shaharuddin Maaruf atas konsepsi johan tinggi budaya Melayu, bersekolah kritisnya atas gagasan-gagasan pengolahan Melayu, pada mana dia mengamati tabiat ideologis konsepsi keilmuan deraian transenden atas gagasan-gagasan reformis, bersama teori-teorinya yg enak atas budaya bersama pembaruan tinggi gaya Melayu. butala ialah semua contohnya. Karya responsif Sharifah Maznah Syed Omar yg membahas karakter kepercayaan tinggi menjaga keperluan elit kolot ialah keadaan parak. Seorang pakar Studi Melayu bermula turunan ketiga, Azhar Ibrahim Alwee, suah meninggalkan deras andil atas komentar Orientalisme tinggi bersekolah butala Melayu. Azhar beserta akurat mengilustrasikan ciri-ciri transenden Orientalisme semacam yg ditemukan tinggi bersekolah kesusastraan, babad, bersama kelompok Melayu. Sarjana parak bermula Studi Melayu pada Singapura, Tham Seong Chee, menoreh atas hal perpindahan penduduk jauhari.

Jawi: sebutan bersama polemik

Kehebohan pada semua pekarangan yg kalau-kalau bukan riskan tinggi sebuah lektur bacaan meninggalkan isyarat bagaimana pun terpolarisasinya kelompok Malaysia.


Pendekatan ini, yg didirikan pada Departemen Studi Melayu atas warsa 1967 pada Universitas Singapura era itu, bersama yg bisa dikatakan dekolonial, dipengaruhi sama Alatas, bersama menginformasikan tulisan-tulisan perdua pakar turunan mula-mula bersama kedua setelahnya. Ambil perbandingan, Noor Aisha Abdul Rahman, mahasiswa Alatas bersama bekas Ketua Jurusan Studi Melayu. Dia berlangsung pada kelompok tata usaha perintah Islam bersama pula memegang kesukaan yg kian mahal tinggi kiblat tuntunan Melayu. Dalam pendekatannya jadi interes atas rekaan kolonial tinggi perintah, tuntunan, pikiran Melayu bersama sebagainya. Di asing ini, jadi penghormatan mau kesinambungan sela-sela zaman kolonial bersama pascakolonial, pada mana sudut pandang kolonial spesifik atas Melayu diinternalisasi sama anak Adam Melayu tunggal, bersama bersikukuh batas rentang waktu sehabis kebebasan. Yang pula distingtif bermula penghampiran Studi Melayu ialah lokasi bahwa lain cuma penjajahan yg bertindak tinggi letak kiblat regresif anak Adam Melayu, namun pula bagian administrator Melayu, yg bukan cuma menginternalisasi kiblat tercatat namun pula diuntungkan sama kapitalisme kolonial bersama berpartai. atas penggunaan anak Adam Melayu. Lebih berumur diakui bahwa ide menonjol atas anak Adam Melayu bersama hal mereka mengarah kulturalis, beserta pengepresan eksesif atas karakter bersama ekor Islam yg esensialis bersama ahistoris.

John Nery, nyamuk pers Filipina, menyatakan atas “budaya Alatas”, yakni “jalur turunan cerdik pandai elit Malaysia yg dimulai sama pemuka yg menjulang semampai, almarhum Syed Hussein Alatas….”

Meskipun Alatas tunggal bukan bertutur atas imbasan ide, ide-idenya atas budaya kemahiran kemasyarakatan yg swatantra suah mempengaruhi perdua pakar selagi duet turunan, bersama sebuah imbasan bisa dikatakan suah keluar. Ulama bersama pujangga Indonesia, Malaysia bersama Singapura terhitung, selain ustaz yg disebutkan pada pada, Chandra Muzaffar, Wan Zawawi Ibrahim, Norshahril Saat, Teo Lee Ken, Mohamed Imran Mohamed Taib, Pradana Boy Zulian bersama Okky Puspa Madasari, Sharifah Munirah Alatas , Masturah Alatas bersama gua tunggal ialah sektor bermula budaya kemahiran kemasyarakatan swatantra pada beragam kelompok kita bersama bisa dikatakan menggantikan Sekolah Pengetahuan Otonom. Cendekiawan lembut turunan ketiga pada butala Melayu memperhitungkan budaya responsif ini ke tinggi keilmuan mereka era mereka menganju makalah bersama desain lainnya. Aliran Pengetahuan Otonom kementakan mewujudkan unik imbasan ide tinggi ilmu-ilmu insan yg keluar pada butala Melayu.

Author: Ethan Butler